Trik Atasi Malas Belajar

Secara sangat proporsional sebenarnya sudah diciptakan situasi agar siswa pada khususnya dan masyarakat pada umumnya terbina untuk semangat belajar. Adanya jam belajar masyarakat adalah sebuah bukti nyata. Hampir di seluruh wilayah tanah air sudah melaksanakan jam belajar masyarakat. Dengan cara itu, bila benar-benar program yang sangat simpatik itu bisa dilakukan secara konsekuen, pada setiap hari sudah dijatahkan waktu belajar. Yakni sekurang-kurangnya dari pukul 19.00-21.00 (atau yang lain) seluruh warga masyarakat bangsa Indonesia ini aktif bergiat belajar.
Walaupun secara serentak sudah diprogramkan waktu jam belajar yang bisa berdaya dukung mengaktifkan semua lapisan masyarakat untuk aktif belajar namun ada juga persoalan yang terjadi. Kadang-kadang kita jumpai siswa yang enggan belajar. Yakni siswa yang kurang terpanggil kesadarannya untuk melakukan kegiatan belajar. Ada sejumlah alasan tentunya mengapa siswa enggan belajar itu. Satu di antaranya dikarenakan siswa kurang terpanggil kesadarannya bahwa belajar itu penting. Latar belakangnya adalah karena tidak disertakannya belajar sebagai bagian untuk mencapai cita-cita yang akan dicapai pada hari depan. Malah, tidak mustahil bahwa cita-cita itu sendiri masih kabur atau belum tergambar di benak siswa.

Untuk memotivasi siswa yang enggan belajar, beberapa upaya dapat dilakukan, antara lain seperti terungkap di bawah ini:

1. Tunjukkan kemampuan siswa
2. Menyusun target jangka pendek
3. Sesuaikan situasi belajar dengan minat siswa
4. Hindari kritik
5. Jika perlu berikan insentif
6. Lakukan konseling sehingga dapat diketahui sebab keengganan belajar
7. Bentuk kelompok-kelompok belajar

Permasalahan enggan belajar menjadi lebih rumit lagi, secara kebetulan biasanya anak yang enggan belajar adalah siswa yang kurang berkemampuan dalam mengikuti pelajaran di sekolah. Mengingat peran belajar itu sangat penting, keengganan belajar itu harus dikikis sedemikian rupa. Setidak-tidaknya siswa harus tetap dibina agar tumbuh kemauan belajarnya.

A. Tunjukkan Kemampuan Siswa
Untuk menciptakan kepercayaan diri para siswa yang enggan belajar itu, baik guru maupun orangtua di rumah harus pandai membangun semangat juang mereka. Cara yang ditempuh, pertama-tama siswa perlu diberi simultan yang mampu meyakinkan diri mereka bahwa dalam diri mereka itu sebenarnya ada potensi. Diberikan tugas-tugas yang kira-kira bisa dikerjakan dengan hasil yang baik. Mereka agar mengerjakan soal-soal dengan pembobotan khusus sesuai dengan kemampuan. Mereka diberi tugas yang seluruhnya bakal dapat dikerjakan dan diperkirakan hasilnya baik, adalah sebagian dari cara-cara yang bisa ditempuh.
Pada tahap permulaan ini, yang penting menyadarkan agar mereka merasakan bahwa ternyata dalam diri mereka ada kemampuan. Oleh karena tujuannya demikian, dalam memberi tugas atau menyampaikan pekerjaan sebagai beban belajar harus dengan terlebih dahulu memetakan kekuatan anak-anak yang kurang berkemampuan untuk berkegiatan belajar itu. Kalau dengan arahan itu ternyata hasil yang mereka raih dari belajar itu positif bagi mereka, siswa akan mulai tertarik untuk belajar.

B. Menyusun Target Jangka Pendek
Kepada para siswa yang enggan belajar itu, setelah tahap pertama dapat dilaksanakan, langkah berikutnya adalah perlu dibantu untuk menyusun target jangka pendek. Siswa dibimbing agar bisa menyusun sendiri target-target belajarnya. Pada awalnya, dibimbing dulu untuk menyusun program belajar dalam satu-dua minggu dengan turut diberikan pendampingan. Siswa agar menyusun sendiri materi apa kira-kira yang dapat mereka persiapkan atau dipelajari dalam waktu yang pendek itu.
Pernyataan target jangka pendek ini lebih bersifat membangun kemauan belajar dari “segi fisik”. Artinya, kalau semula belajar itu merupakan suatu kegiatan yang tidak diminati, dengan disusunnya target ini menjadikan siswa enggan belajar lalu mulai dengan tindakan nyata mau melakukan kegiatan belajar itu. Tentang hasil belajar itu dinomorduakan saja. Oleh karena itu, hendaknya guru atau orangtua bisa membantu menyusun target belajar mereka. Siswa diarahkan agar berdasar kemauan sendiri dapat menyusun target yang akan dicapai dalam belajar mereka.

C. Sesuaikan Situasi Belajar dengan Minat Siswa
Pembiasaan belajar bagi siswa yang enggan belajar, terutama pada langkah awal. Upaya pembentukan semangat belajar itu hendaknya disesuaikan dengan kemauan siswa agar terbina mau belajar dituruti saja. Andaikata mereka semula baru berminat belajar pada beberapa mata pelajaran, biarkan itu terjadi. Jangan lalu dipaksakan untuk memenuhi kehendak orang di luar diri mereka.
Atau sangat mungkin mereka pada mulanya hanya mau belajar pada sore hari, atau pada malam hari saja, atau siang mau belajar tetapi sangat sebentar dan selebihnya malam hari juga mau belajar tetapi tidak lebih dari dua jam.
Bisa jadi, anak yang enggan belajar itu menunjukkan kondisi yang tidak berimbang. Ketika menghadapi mata pelajaran yang disenangi sangat mungkin belajarnya bersemangat dan bisa tahan cukup lama. Namun, kalau menghadapi mata pelajaran yang kurang disenangi siswa akan kurang berkemauan. Untuk sementara waktu, yaitu pada awal saat-saat membina semangat belajar itu sedang dilakukan hendaknya keadaan yang demikian itu dimaklumi dulu.

D. Hindari Kritik
Upaya membina semangat siswa yang enggan belajar memerlukan kesabaran. Di samping itu, terlebih-lebih lagi yang selalu harus diingat adalah peran untuk membangkitkan kemauan, keberanian, dan keyakinan akan keberhasilan mereka. Karena prinsipnya belum akan menyentuh kepada hasil yang akan dicapai, apalagi prestasi yang dapat diraih dari belajar itu, orang yang dengan sadar ingin membina mereka harus bersikap hati-hati.

Kritik yang terlalu berharap, meskipun sebenarnya hal itu teruntuk mereka juga, pada awalnya harus dihindari. Hasil seperti apa saja harus diterima oleh orang-orang yang berniat untuk membangun belajar mereka. Sebab saran maupun kritik yang salah bisa mematahkan semangat. Maka, yang lebih baik adalah mendokumentasikan perkembangan kemauan belajar mereka. Dicatat hal-hal yang bisa dijadikan bekal untuk meningkatkan prestasi mereka, bila kelak kemauan belajarnya sudah terbentuk.

E. Jika Perlu Berikan Insentif
Memang agak aneh rasanya, belajar bukankah untuk kepentingan siswa juga. Mengapa harus diberi insentif. Tidak masuk akal rasanya. Namun, karena kondisi pembangkitan kemauan belajar bagi siswa yang enggan belajar ini memang lebih menjurus ke arah pendewasaan bersikap, mau tidak mau harus lebih dulu menganggap mereka “anak kecil” yang cara-cara pendekatannya masih bersifat “kekanakan”. Dipuji dan diberi hadiah adalah pembiasaan yang pada tahap awal masih dianggap baik dan perlu.
Insentif yang perlu diberikan kepada mereka yang dibina belajarnya misalnya dengan memberi kata pujian, hadiah, dan simultan pembangkitan gairah belajar. Pujian diberikan kepada mereka yang sudah tampak adanya perubahan sikap dalam belajar. Kalau semula belajarnya hanya sambil lalu, yaitu belajar bersamaan dengan menonton televisi kemudian sudah tampak belajar di ruang tersendiri, terhadap kondisi membaik itu perlu diberikan pujian.
Bila dari perubahan sikap belajar itu kemudian diikuti dengan hasil belajar yang lebih baik, hadiah ala kadar perlu diberikan. Buku, pensil, balpoin, bisa diberikan sebagai hadiah kepada mereka. Dengan adanya hadiah itu mudah-mudahan akan menjadikan mereka terangsang dan tertantang untuk lebih maju lagi.
Akhirnya diperlukan stimulan pembangkitan gairah belajar. Pembangkitan belajar itu misalnya diberikan tawaran program-program kepada mereka yang perlu diberi bantuan dalam belajar itu dalam bentuk stimulan peningkatan harga diri. Bentuknya antara lain penyadaran. Setelah belajar dilakukan dengan teratur dan hasilnya tampak positif, mereka bisa dibukakan wawasan ke depan. Oleh guru atau orangtua siswa dapat digambarkan alternatif-alternatif yang bakal bisa dijangkau hasil belajar itu di hari depan. Dengan membandingkan, andaikata tanpa belajar giat itu kelak otomatis tanpa berharapan dan bila belajar bersungguh-sungguh itu alternatif menjadi “orang” lebih terbuka secara otomatis anak akan tertantang untuk maju.

F. Konseling Demi Membangkitkan Minat Belajar

Layanan konseling merupakan suatu proses bantuan kepada klien di dalam memecahkan problem hidupnya dengan jalan mewawancarai secara tatap muka dan dengan cara-cara yang sesuai dengan keadaan individu yang dihadapi agar klien dengan kemampuannya sendiri dapat memecahkan problem hidupnya. Dimaksudkan klien dalam tulisan ini adalah para siswa yang enggan belajar tadi.
Secara asumsi, sangat dimungkinkan bahwa siswa enggan belajar karena ada fakta-fakta lain yang berkait dengan permasalahan belajar tadi. Siswa enggan belajar karena orangtua terlalu menekankan anaknya untuk memasuki sekolah atau perguruan tinggi yang tidak disenangi. Akibat dari kondisi negatif ini siswa menjadi tidak bergairah belajar atau enggan belajar.
Dalam kaitan dengan kondisi khusus seperti dikemukakan di atas, yang lebih berperan untuk dapat membantu siswa adalah guru bimbingan dan konseling. Guru dengan peran atau tugas khusus itu mempunyai cara-cara untuk memecahkan masalah yang dihadapi oleh siswa. Langkah-langkah yang biasanya ditempuh adalah: identifikasi kasus, pengumpulan data, analisis data, diagnosis, konseling/terapi, evaluasi dan tindak lanjut.
Dengan serangkaian langlah itu dapat diyakini bahwa problematic yang dihadapi oleh siswa akan dapat dipecahkan dan belajar siswa akan bisa diharapkan. Ibaratnya problem-problem tadi adalah sejumlah polusi yang mencemari pribadi anak didik dan berefek sangat negatif dalam bentuk keengganan belajar, setelah permasalahannya dibereskan, mudah-mudahan semangat belajar itu akhirnya muncul.
Di sisi lain, pihak bimbingan dan konseling memang mempunyai kemampuan untuk membangkitkan minat belajar, sehingga tepatlah bila peran bimbingan dan konseling terjun langsung menangani anak didik yang kurang bersemangat dalam belajar.

G. Dibentuk Kelompok Belajar
Anak didik yang kurang berkemauan untuk belajar dapat dibantu dengan diselenggarakannya kelompok belajar. Belajar kelompok adalah sebuah cara yang cukup baik untuk menggairahkan agar seorang mau belajar. Bila siswa belajar sendiri dan kebetulan siswa tersebut tergolong anak yang kurang rajin, tidak cerdas dan lemah semangat serta sempit wawasan, yang biasa terjadi akhirnya siswa tersebut tidak bisa berbuat apa-apa. Tanpa disadari ia sudah menyerah kalah pada situasi dini. Padahal, kalau ia mau berusaha dan ada orang lain yang memberikan rangsangan untuk bangkit, mungkin akan lain jadinya.
Untuk mengatasi kondisi negatif seperti telah dikemukakan, ada cara yang cukup relevan dan mudah dilakukan yaitu dengan membentuk kelompok belajar. Kelompok belajar mendorong siswa untuk belajar secara berkelompok. Keuntungan yang dapat dipetik dari model belajar berkelompok ini adalah tambahnya rasa solidaritas. Keberhasilan dalam belajar kelompok lebih diukur untuk sukses semua, sukses bersama. Oleh karena prinsip dasarnya demikian, maka siswa yang merasa kurang mampu akan didorong oleh teman lain agar bisa menyelesaikan atau memecahkan permasalahan yang dihadapi dalam belajar.
Keuntungan lain dengan terbentuknya regu-regu belajar kelompok adalah timbulnya kesadaran untuk saling membantu kepada siswa yang tergolong lemah potensi. Entah kelemahan itu berkaitan dengan kemampuan dasarnya, ataukah kelemahan itu dikarenakan pembiasaan yang salah dalam persoalan belajar, dengan dilaksanakannya belajar kelompok akan muncul situasi yang lain. Sesama para siswa akan terapresiasikan untuk bisa saling memperbaiki diri. Melihat teman lain yang usahanya cukup gigih dan akhirnya menghasilkan prestasi akan mendorong diri mereka yang enggan untuk menyesuaikan diri.
Layak pula dikatakan, belajar kelompok akan membangkitkan semangat bagi siswa yang lemah belajar untuk bisa beradaptasi dengan siswa yang kuat berkemauan dan ingin maju. Pembangkitan semangat yang asalnya dari sesama teman kadang-kadang membawa hasil yang lebih besar.
Dalam pembentukan kelompok belajar perlu diingat beberapa hal. Misalnya kelompok jangan terlalu besar. Kalau ada kelompok yang terdiri atas 10 orang jelas kelompok itu terlalu besar. Beranggotakan sekitar 6 orang tentunya akan lebih efektif.
Di samping itu, dalam belajar kelompok pun perlu dibentuk susunan tim. Sekurang-kurangnya adan ketua dan sekretaris. Gunanya untuk mengatur strategi belajar yang lebih bisa diharapkan membawa hasil.
Belajar kelompok harus mengagendakan program-program yang akan dilaksanakan. Jangan terjadi adanya perubahan acara yang jauh dari sasaran atau tujuan. Maunya belajar kelompok tahu-tahu berubah menjadi kelompok tim voli. Oleh karena itu program-programnya harus jelas.
Dalam belajar kelompok sangat diperlukan orientasi dan saling menjaga keharmonisan. Jangan ada di antara anggota yang lebih suka berpasif diri dan maunya hanya mengambil bagian dalam hal yang enak belaka. Tidak mau berpikir dan andil sesuatu, akan tetapi kalau ada hasil yang menguntungkan langsung saja ikut memiliki. ( Sumber :http://ripto18.blogspot.com )

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Terima kasih karena sudah memberikan kritik maupun saran ...Sukses buat anda.